Bahasa merupakan sebuah sistem dari manusia untuk berkomunikasi. Bahasa-bahasa berubah dan bervariasi sepanjang waktu, dan sejarah evolusinya dapat direkonstruksi ulang dengan membandingkan bahasa modern untuk menentukan sifat-sifat mana yang harus dimiliki
oleh bahasa leluhurnya supaya perubahan nantinya dapat terjadi.
Hal tersebut tentu juga berlaku bagi bahasa kita yaitu Bahasa Indonesia. Seiring berjalannya waktu maka terdapat beberapa perubahan dalam Bahasa Indonesia. Contohnya apabila dahulu untuk menyebut huruf J maka harus dieja menjadi DJ atau huruf C dieja menjadi TJ. Sehingga kita dapat melihat orang-orang yang bernama Djoko, Tjandra, dan sebagainya.
Saat ini bangsa kita sudah mulai mencampur bahasa Indonesia dengan
bahasa asing dalam pemakaian bahasa sehari-hari. Tentu dalam konteks
pembicaraan non-formal alias bahasa gaul, hal ini tidak menjadi suatu
masalah yang signifikan. Namun jika pemakaian bahasa campur aduk ini
dibawa ke dalam sebuah forum formal, kuliah misalkan, ataupun bahasa
dalam surat kabar, maka fenomena ini menjadi suatu permasalahan yang
cukup serius. Jika kita menilik apa penyebab utama mengapa fenomena ini
terjadi adalah kebiasaan bangsa Indonesia pada umumnya yang mengagungkan
semua hal yang berbau internasional, luar negeri, atau dapat dibilang
berbau barat. Dengan kata lain, secara kasar bangsa Indonesia kurang
bangga dengan bahasanya dan budayanya sendiri. Pemakaian bahasa dan
budaya asing dirasa lebih keren dan dapat diterima dalam pergaulan.
Sekali lagi, jika digunakan pada konteks pergaulan sehari-hari hal ini
tidak menjadi suatu masalah serius, namun yang disayangkan adalah jika
hal ini terjadi pada sebuah forum ilmiah, media massa, kuliah, seminar
dan forum formal lain.
Fenomena ini terkesan menelanjangi identitas kebangsaan kita.
Seakan Bahasa Indonesia tidak bisa terlihat lebih baik dibanding
pemakaian bahasa asing, dalam kasus ini bahasa Inggris. Mungkin dengan
adanya tuntutan hidup di era globalisme, maka masyarakat dituntut pula
untuk dapat “bergaul” secara global. Namun pada akhirnya dalam
pergaulannya, masyarakat kehilangan identitas kebangsaannya Bahasa
Indonesia.
Kita harus belajar kepada Negara Asia lainnya seperti China, Korea Selatan, dan Jepang yang dapat maju di dunia internasional namun tetap menjunjung tinggi bahasa negaranya sendiri. Hal tersebut menimbulkan banyak orang yang ingin mempelajari bahasa China, Korea Selatan, dan juga Jepang.
Oleh sebab itu penting bagi kita sebagai generasi penerus bagi Bangsa Indonesia untuk tetap melestarikan dan menjaga nama baik Bahasa Indonesia. Meski kita hidup mengglobal namun harus tetap menjunjung tinggi dan melestarikan Bahasa Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar