Jumat, 03 Desember 2010

Agama dan Masyarakat

Sebagai bangsa yang mengakui adanya Tuhan, seperti yang tertulis dalam sila pertama dari Pancasila yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, dengan demikian Bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan mengenai keberadaan agama di tengah-tengah masyarakat. Berdasarkan sudut pandang kebahasaan bahasa Indonesia pada umumnya “agama” dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “tidak kacau”. Agama diambil dari dua akar suku kata, yaitu a, yang berarti “tidak” dan gama yang berarti “kacau”. Sedangkan definisi agama menurut Durkheim adalah suatu "sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudusÉ kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal." Dari definisi ini ada dua unsur yang penting, yang menjadi syarat sesuatu dapat disebut agama, yaitu "sifat kudus" dari agama dan "praktek-praktek ritual" dari agama. Peraturan agama dalam masyarakat penuh dengan hidup, menekankan pada hal-hal yang normatif atau menunjuk kepada hal-hal yang sebaiknya dan seharusnya dilakukan. Karena latar belakang sosial yang berbeda dari masyarakat agama, maka masyarakat akan memiliki sikap dan nilai yang berbeda pula. Kebutuhan dan pendangan kelompok terhadap prinsip keagamaan berbeda-beda, kadang kala kepentingannya dapat tercermin atau tidak sama sekali.

FUNGSI AGAMA
Untuk mendiskusikan fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu di pelajari yaitu kebudayaan , sistem sosial , dan keppribadian. Ketiga aspek tersebut merupakan kompleks fenomena sosial terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku manusia, sehingga timbul pertanyaan, sejauh mana fungsi lembaga agama dalam memelihara sistem. Teori fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa kebudayaan itu terwujud suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-nnorma, peraturan, dan sistem sosial yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan yang lain, setiap saat mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan ada tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi di sekeliling.

Pernyataan selanjutnya adalah bagaimana fungsional dalam konteks teori fungsional kepribadian, dan sejauh mana agama mempertahankan keseimbangan pribadi melakukan funsinya. Sebagai ilustrasinya adalah Id, Ego, dan Superego yang ada dalam situasi yang terstruktur secar sosial.

Aksioma teori fungsional agama adalah , segala sesuatu yang tidak berfungsi akan lenyap dengan sendirinya, karena agama sejak dulu sampai saat ini masih ada, mempunyai fungsi, dan bahkan memerankan sejumah fungsi . teori funsionalisme agama juga memandang kebutuhan “ sesuatu yang mentransendensikan pengalaman“ (referensi trasenddental) sebagai dasar dari karakteristik dasar eksistensi manusia meliputi hidup dalam ketidak pastian, hal penting bagi keamanan dan kesejaterahan manusia berada di luar jangkauan.


Masalah fungsionalisme agama dapat di analisis lebih mudah pada komitmen agama . dimensi komitmen agama, menurut roland robertson (1984), di klasifikasikan berupa keyakinan, praktek, pengalaman, pengetahuan, dan konsekuensi.
-Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religius akan menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran-kebenaran agama
-Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbaakti, yaitu perbuatan untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata.
-Dimensi pengalaman memperhitungkan fakta, bahwa semua agama mempunyai peerkiraan tertentu
-Dimensi pengetahuan di kaitkan dengan perkiraan, bahwa orang-orang yang bersikap religius akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan
-Dimensi konskuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.

PELEMBAGAAN AGAMA
Agama begitu universal, permanan (langgeng), dan mengatur dalam kehidupan sehingga bila tidak memahami agama, akan sukar memahami masyarakat. Hal yang perlu dijawab dalam memahami lembaga agama adalah, apa dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsi dan struktur agama.

Kaitan agama dengan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe , meskipun tidak menggambarkan sebernarnya seccara utuh ( Elizabeth K. Nottingham,1954)

-Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sakral
Masyarakat tipe ini kecil terisolasi , dan terbelakang . anggota masyarakat menganut agama yang sama . oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat dan dalam kelompok keagamaan adalah sama .agama menyusup ke dalam kelompok aktivitas yang lain . sifat-sifat :
1. Agama memasukan pengaruhnya yang sakral ke dalam sistem nilai masyarakat secar mutlak .
2. Dalam keadaan lembaga lain selain keluarga relatif belum berkembang , agama jelas menjadi fokus utama bagi pengintegrasian dan persatuan dari masyarakat secara keseluruhan .

-Masyarakat-masyarakat praindustri yang sedang berkembang. Keadaan masyarakat tidak terisolasi ada perkembangan teknologi yang lebih tinggi dari tipe pertama.

Tampilnya organisasi agama adalah akibat adanya “ perubahan batin “ atau kedalamann beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi fungsi, fasilitas, produksi produksi, pendidikan, dan sebagainya. Agama menuju ke pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil bentuk dalam berbagai corak organisasi keagamaan.

Sumber:
Harwantiyoko. MKDU Ilmu Sosial Dasar. 1997. Depok: Gunadarma

Tidak ada komentar:

Posting Komentar