Jumat, 26 November 2010

Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Kemiskinan

Ilmu pengetahuan, teknologi, dan kemiskinan adalah bagian-bagian yang tidak dapat dibebaskan dan dipisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi, interelasi, interdependensi, dan ramifikasi (percabangannya). Ketiga hal ini tentu sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita. Fenomena tersebut bisa kita lihat di bangsa kita sendiri. Ilmu pengetahuan semakin maju dan mempengaruhi perkembangan teknolog, namun selain itu masih terdapat pula kemiskinan yang terjadi di bangsa ini. Pada penulisan kali ini mari kita sama-sama menyikapi ketiga hal tersebut.

Ilmu Pengetahuan
Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Dewan Riset Nasional dinyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah rangkaian pengetahuan yang digali, disusun, dan dikembangkan secara sistematis dengan menggunakan pendekatan tertentu yang dilandasi oleh metodologi ilmiah, baik yang bersifat kuantitatif, kualitatif, maupun eksploratif untuk menerangkan pembuktian gejala dan/atau gejala kemasyarakatan tertentu. Pada kenyataannya, pengertian mengenai ilmu pengetahuan begitu beragam. Aristoteles menyatakan pengetahuan merupakan pengetahuan yang dapat diinderai dan dapat merangsang budi. Menurut Descartes ilmu pengetahuan merupakan serba budi; oleh Bacon dan David Home diartikan sebagai pengalaman indera dan batin; menurut Immanuel Kant pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman.

Untuk mencapai suatu pengetahuan yang ilmiah dan obyektif diperlukan sikap yang bersifat ilmiah, yang meliputi empat hal yaitu :
1.Tidak ada perasaan yang bersifat pamrih sehingga menacapi pengetahuan ilmiah yang obeyktif
2.Selektif, artinya mengadakan pemilihan terhadap problema yang dihadapi supaya didukung oleh fakta atau gejala, dan mengadakan pemilihan terhadap hipotesis yang ada
3.Kepercayaan yang layak terhadap kenyataan yang tak dapat diubah maupun terhadap indera dam budi yang digunakan untuk mencapai ilmu
4.Merasa pasti bahwa setiap pendapat, teori maupun aksioma terdahulu telah mencapai kepastian, namun masih terbuka untuk dibuktikan kembali.

Teknologi
Teknologi merupakan jalur utama yang dapat menyongsong masa depan cerah, kepercayaannya sudah mendalam. Teknologi sudah sangat membantu kehidupan umat manusia. Manusia dapat menghasilkan pekerjaan yang efektif dan efisien berkat adanya teknologi. Teknologi memperlihatkan fenomenanya dalam masyarakat sebagai hal impersonal dan memiliki otonomi mengubah setiap bidang kehidupan manusia menjadi lingkup teknis.

Fenomena teknik pada masyarakat kini, menurut Satrapratedja (1980) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Rasionalitas, artinya tindakan spontan oleh teknik diubah menjadi tindakan yang direncanakan dengan perhitungan rasional.
2. Artifisialitas, artinya selalu membuat sesuatu yang buatan tidak alamiah
3. Otomatisme, artinya dalam hal metode, organisasi dan rumusan dilaksanakan serba otomatis. Demikian pula dengan teknik mampu mengeliminasikan kegiatan non-teknis menjadi kegiatan teknis.
4. Teknis berkembang pada suatu kebudayaan.
5. Monisme, artinya semua teknik bersatu, saling berinteraksi dan saling bergantung.
6. Universalisme, artinya teknik melampaui batas-batas kebudayaan dan ediologi, bahkan dapat menguasai kebudayaan.
7. Otonomi, artinya teknik berkembang menurut prinsip-prinsip sendiri.

Teknik telah menguasai berbagai bidang manusia, seperti:
1. Teknik meliputi bidang ekonomi: industri, pabrik
2. Teknik meliputi bidang organisasi: hukum, militer
3. Teknik meliputi bidang manusiawi: pendidikan, olahraga

Kemiskinan
Kemiskinan merupakan suatu hal yang harus diperjuangkan agar kita mencapai keadilan dan kemakmuran. Ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran penting dalam mengentaskan kemiskinan. Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan okok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal:
1. Persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan.
2. Posisi manusia dalam lingkungan sekitar.
3. Kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.

Mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Tidak memiliki faktor produksi sendiri: tanah, modal, dsb.
2. Tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh asset produksi dengan kekuatan sendiri: tanah garapan, modal usaha, dsb.
3. Tingkat pendidikan mereka rendah
4. Kebanyakan tinggal di desa sebagai pekerja bebas
5. Banyak yang hidup di kota berusia muda, dan tidak memiliki keterampilan.

Seringkali kita melihat seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi malah menambah kemiskinan banyak orang. Penggunaan teknologi yang tidak bijak maka hanya akan membuat kelompok tertentu saja yang merasakan kemakmuran. Padahal seharusnya berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa harus diikuti dengan berkurangnya kemiskinan di bangsanya tersebut.

Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan. Maka ada interrelasi, interaksi, dan interdependensi antara kemiskinan dan sistem atau subsistem "ilmu pengetahuan dan teknologi."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar