Sistem
Informasi Geografi (SIG)
Kerangka Karangan:
- Pengertian SIG
- Sejarah SIG
- Komponen-komponen SIG
- Peranan SIG dalam Pendidikan
1.1 Sistem
Informasi Geografi (SIG)
Pengertian SIG secara luas adalah
sistem manual dan atau komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan,
mengelola dan menghasilkan informasi yang mempunyai rujukan spasial atau
geografis. Banyak para ahli mencoba mendefinisikan SIG secara lebih
operasional, misal Burrough (1986) mengemukakan bahwa SIG adalah seperangkat
alat (tools) yang bermanfaat untuk pengumpulkan, penyimpanan, pengambilan data
yang dikehendaki, pengubahan dan penayangan data keruangan yang berasal dari
gejala nyata di permukaan bumi. Arronof (1989) dalam bahasa yang lebih lugas
mendefinikan SIG sebagai suatu sistem berbasis komputer yang memberikan empat
kemampuan untuk menangani data bereferensi geografis, yakni pemasukan,
pengelolaan atau manajemen data (penyimpanan dan pengaktifan kembali),
manipulasi dan analisis, dan keluaran.
Dari berbagai definisi tersebut
dapat ditarik suatu benang merah bahwa di dalam SIG tercermin adanya: (1)
pemrosesan data spasial dalam bentuk digital
(numeric) yang mendasarkan pada kerja komputer yang mempunyai
persyaratan tertentu , disamping data lainnya yang berupa data atribut; (2) dinamisasi proses
pemasukan, klasifikasi, analisis hingga keluaran (hasil); (3) menghasilkan informasi
baru.
1.2 Sejarah
Sistem Informasi Geografi
Kehadiran Sistem Informasi Geografi
ditandai oleh munculnya ide dasar tentang sistem pencatatan atau penggambaran
peta dalam berbagai lembar secara seri dalam satu macam kerangka peta dasar.
Ide tersebut muncul dalam sistem perpetaan sejak perang revolusi Amerika
(American revolutionary was). Dalam perkembangannya pada tahun 1835 telah pula
dilakukan kombinasi informasi teknologi, sosial dan lingkungan dalam bentuk yang
masih sederhana. Baru pada tahun 1838 muncul The Atlas to accompany : the second report of the Irish railway
commissioner, yang berisi informasi mengenai penduduk, geologi dan
topografi. Setiap lembar peta dibuat dalam batas daerah dan skala yang sama, melalui
tumpang susun peta-peta tematik tertentu, sehingga dapat diperoleh lokasi
terbaik untuk jalur angkutan. Atlas tersebut belum merupakan suatu sistem yang
padu (integrated) seperti kemampuan yang ada dalam SIG, meski demikian Atlas
tersebut dianggap sebagai produk SIG pertama.
Berkembang pesatnya SIG ditopang oleh perkembangan di bidang
elektronika, terutama komputer. Sebenarnya SIG dapat dilakukan secara manual,
yakni dengan menumpangsusunkan (overlay) beberapa peta tematik sederhana dalam
jumlah terbatas, tetapi bila peta yang hendak ditumpangsusunkan jumlahnya
banyak (4 atau lebih), maka pekerjaannya akan menjadi rumit. SIG manual
bersifat statis, keluarannya tidak dapat diubah-ubah secara cepat, dan tidak
dapat ditambah dengan informasi baru secara dinamis. SIG yang bersifat dinamis
pertama kali dikembangkan oleh CSIG (Canadian Geographic Information Systems)
dipelopori oleh Roger Thomlinson pada dekade 1960-an. Perkembangan ini didorong
oleh terciptanya SDMS (Spasial data management system), yakni suatu bahasa
pemograman yang dapat digunakan untuk pengklasifikasian kembali atribut,
menghapus garis, batas poligon, mengubah skala, mengukur luas, membuat poligon
baru, mencari tanda, membuat daftar, dan melakukan tumpang susun poligon secara
efisien. Perkembangan lebih lanjut dipacu dengan ditemukannya sistem grid sel
(Cell Grid System) yang dapat mengubah format peta kedalam sistem grid sel yang
dapat dibaca oleh komputer (Dulbahri, 1997).
Kesadaran akan struktur penyimpanan dan analisis pemetaan data yang baik
dan stabil makin dominan pada akhir tahun 70-an. Akan tetapi, penekanannya
lebih pada data peta, bukan data spasial. Pencarian struktur data peta yang
representatif, stabil dan konsisten mendorong para ahli SIG internasional memperkenalkan ide topologi dan teori graf ke
dalam SIG. Sekitar tahun 1980-an perkembangan SIG diwarnai dengan pengenalan
dan perkembangan personal computer (PC). Pengelolaan struktur data spasial
dalam sistem yang lebih baik membuat SIG menjadi lebih terpercaya, metode indeks
dan pangkalan data spasial dalam sistem yang lebih baik membuat SIG menjadi
lebih terpercaya. Pada dekade ini berkembang pesat teori-teori SIG,
bermunculannya berbagai perkumpulan profesional, dan pendirian pusat-pusat
penelitian SIG, seperti Cosir, SSD, SDH, dan lain-lain.
Dalam sejarah perkembangan SIG, dekade 1990-an dinyatakan sebagai
periode terobosan (breakthrough), sejak
orientasi objek dalam sistem dan desain pangkalan data makin baik, diringi
dengan makin meluasnya pengakuan terhadap aktivitas SIG sebagai aktivitas
profesional dan berkembang pesatnya teori-teori informasi spasial sebagai dasar
teori SIG. Saat ini, telah beredar berbagai macam perangkat lunak SIG
komersial, seperti ERDAS, IDRISI, ILWIS, ARC/INFO, MAP INFO, AutoCad Map,
ArcView, ArcSIG, E-View, dan lain-lain dalam berbagai versi. Perusahaan SIG
komersial yang kini banyak menguasai pasar dunia adalah Intergraph dan ESRI.
1.3 Komponen-komponen
Sistem Informasi Geografi
Untuk membuat suatu perencanaan
pembangunan atau pengambilan keputusan yang berkaitan dengan spasial diperlukan
analisis data yang bereferensi geografis. Analisis ini harus didukung oleh
sejumlah konsep-konsep ilmiah dan
sejumlah data yang handal. Data atau informasi yang berkaitan dengan
permasalahan akan dipecahkan harus dipilih dan diolah melalui pemrosesan yang
akurat. Untuk keperluan tersebut SIG menyediakan sejumlah komponen atau
subsistem masukan data, pengelolaan
data, manipulasi dan analisis data, dan keluaran data.
1. Masukan
data (data input)
Subsistem masukan data adalah
fasilitas dalam SIG yang digunakan untuk memasukan data dan merubah bentuk data
asli ke dalam bentuk data yang dapat diterima dan dipakai dalam SIG. Pemasukan
data ke dalam SIG dilakukan dengan 3 cara, yakni : pelarikan atau penyiaman,
digitasi, dan tabulasi.
Pelarikan (scanning)
Pelarikan atau penyiaman adalah proses pengubahan data grafis kontinyu
menjadi data diskrit yang terdiri atas
sel-sel penyususn gambar (pixel.) Pelarikan untuk gambar peta kini dapat
dilakukan dengan portable scanner
yang kini banyak beredar di pasaran. Data hasil penyiaman disimpan dalam bentuk
raster. Data raster ini dapat diubah menjadi data vektor melalui proses
digitasi. SIG berbasis raster banyak yang menyukai karena pengolahannya lebih
mudah, proses tumpang susun (overlay) peta dapat dilakukan secara lebih cepat.
Digitasi
Digitasi adalah proses pengubahan data grafis analog menjadi data grafis
digital, dalam struktur vektor. Pada struktur vektor ini data disimpan dalam
bentuk titik (point), garis (lines) atau segmen, data poligon (area) secara
matematis-geometris (Lo, 1986). Contoh tipe data titik adalah kota, lapangan
terbang, pasar. Tipe data garis diantaranya adalah sungai, jalan, kontur
topografik. Tipe data poligon/area antara lain ditunjukkan oleh bentuk-bentuk
penggunaan lahan, klasifikasi tanah, daerah aliran sungai. Tipe-tipe data
geografis tersebut dapat saling berinteraksi atau berinteraksi dengan data
lain. Misal, data penggunaan lahan dapat berinteraksi dengan data jenis tanah.
Pada beberapa perangkat lunak SIG
berbasis windows, seperti Map Info dan ArcView, digitasi dapat dilakukan pada
tampilan peta screen monitor komputer, yang merupakan display data hasil
penyiaman. Digitasi dalam hal ini lebih dikenal dengan istilah stretching.
Digitasi dengan cara ini dianggap lebih memiliki akurasi yang lebih baik
daripada digitasi dengan menggunakan digitizer table. Proses digitasi ini
merupakan langkah dalam SIG yang paling banyak menyita waktu.
Tabulasi
Basis data dalan SIG dikelompokkan
menjadi dua, yakni basis data grafis dan basis data non-grafis (atribut). Data
grafis adalah peta itu sendiri, sedangkan data atribut adalah semua informasi non-grafis, seperti derajat
kemiringan lereng, jenis tanah, nama tempat, dan lain-lain. Data atribut ini
disimpan dalam bentuk tabel, sehingga sering disebut basis data tabuler. Data
tabel ini kemudian dikaitkan dengan data grafis untuk keperluan analisis.
2.
Pengelolaan data
Pengelolaan data meliputi semua operasi penyimpanan, pengaktifan,
penyimpanan kembali dan pencetakan semua data yang diperoleh dari input data.
Beberapa langkah penting lainnya, seperti pengorganisasian data, perbaikan,
pengurangan, dan penambahan dilakukan pada subsistem ini.
3. Manipulasi
dan Analisis data
Fungsi subsistem ini adalah untuk
membedakan data yang akan diproses dalam SIG. Untuk merubah format data,
mendapatkan parameter dan proses dalam pengelolaan dapat dilakukan pada
subsistem ini. Upaya evaluasi terhadap subsistem ini perlu terus dilakuakan,
karena subsistem ini merupakan sentra dalam proses kerjal SIG, dimana informasi
baru yang akan dihasilkan ditentukan dalam proses subsistem ini. Beberapa
fasilitas yang biasa terdapat dalam
paket SIG untuk manipulasi dan analisis, meliputi empat unsure, yakni : fasilitas
penyuntingan, interpolasi spasial, tumpang susun, modeling, dan analisis data
(Danoedoro, 1996).
Penyuntingan
Sebenarnya, sebagian fungsi
penyuntingan ini telah dilakuakan dalam subsistem manajemen data (khususnya
data spasial), tetapi ada yang belum dikerjakan secara detail, yakni
pemutakhiran (up dating) data. Sebagai contoh pemutakhiran data spasial antara
lain, peta pola persebaran pemukiman untuk tahun terbaru tidak perlu digitasi
ulang, tetapi cukup diperbaharui dengan menambah data baru.
Interpolasi spasial
Interpolasi spasial merupakan jenis
fasilitas SIG yang rumit, bahkan dapat dikatakan bahwa langkah ini tidak dapat
dilakukan secara manual. Setiap titik pada koordinat tertentu dalam peta memuat
sejumlah informasi koordinat dan nilai-nilai tertentu suatu variabel yang
dikehendaki. Misal, pemasukan data berupa posisi koordinat dan kemiringan
lereng, dapat diinterpolasi. Hasil dari proses interpolasi tersebut adalah peta
kontinyu dimana setiap titik pada peta digital tersebut menyajikan informasi
berupa nilai riil.
Tumpang susun (overlay)
Tumpang susun ini sebenarnya
merupakan langkah di dalam SIG yang dapat dilakukan secara manual, tetapi cara
manual terbatas kemampuannya. Bila peta yang akan ditumpangsusunkan lebih dari
4 lembar peta tematik, maka kan terjadi kerumitan besar dan sukar dirunut
kembali dalam menyajikan satuan-satuan pemetaan baru (Danoedoro, 1996).
Software SIG yang berbasis raster dapat melakukan proses tumpang susun secara
lebih cepat daripada software SIG berbasis vektor. Proses tumpang susun lebih
cepat pada SIG berbasis raster karena proses ini dilakukan antar pixel dari
masing-masing input data peta pada koordinat yang sama, tidak harus merumuskan
lagi topologi baru untuk satuan pemetaan baru yang dihasilkan dari proses ini
sebagaimana yang terjadi pada SIG berbasis vektor.
Pembuatan Model dan Analisis data
Bila input data telah masuk dan
tersusun dalam bentuk basis data, maka proses pembuatan model (modeling) dan
analisis data menjadi efisien, dapat dilakukan kapan saja dan dapat dipadukan
dengan input data peta baru. Pada bagian inilah terletak manfaat SIG yang
besar, yakni ketika seluruh data telah tersedia dalam bentuk digital.
4. Keluaran
data (data output)
Subsistem
ini berfungsi untuk menayangkan (displaying) informasi baru dan hasil analisis
data geografis secara kuantitatif maupun kualitatif. Wujud keluaran ini berupa
peta, tabel atau arsip elektronik (file). Keluaran data ini tidak hanya
ditayangkan pada monitor, tetapi selanjutnya perlu disajikan dalam bentuk cetakan (hardcopy), dengan maksud agar dapat
dibaca, dianalisis, dan diketahui persebarannya secara visual (khusus untuk
data peta).
1.4 Peran SIG
dalam Pendidikan
Pembangunan pendidikan nasional
tidak dapat lepas dari perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun
global. Pendidikan harus dibangun dalam keterkaitannya secara fungsional dengan
berbagai bidang kehidupan, yang masing-masing memiliki persoalan dan tantangan
yang semakin kompleks. Dalam lima tahun ke depan, pembangunan pendidikan
nasional harus dilihat dalam perspektif pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya. Dalam perspektif demikian, pendidikan harus lebih berperan dalam
membangun seluruh potensi manusia agar menjadi subyek yang berkembang secara
optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Dengan mengetahui apa itu SIG dan manfaat
diterapkannya SIG serta komponen-komponen yang diperlukan untuk membuat SIG,
dapat kita ketahui bahwa peran SIG dalam pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Pemerataan dan perluasan akses pendidikan
Peran ini dapat dilakukan dengan
adanya pemetaan sekolah (School mapping) yang apabila disinergikan dengan
pemanfaatan SIG, akan diperoleh suatu sistem yang mampu mendata daerah atau
wilayah mana saja yang belum terlayani pendidikan secara baik untuk diberikan
solusi (seperti : pemberian block grant). Sehingga program-program yang
direncanakan bisa tepat sasaran. Di samping itu penentuan letak sekolah baru
dapat dilakukan dengan cara menggabungkan beberapa data (penduduk usia sekolah)
dengan peta (peta jaringan jalan, peta tata guna lahan, peta kawasan industri)
sehingga dapat diperoleh perencanaan pendidikan yang komperehensif. Fungsi
overlay, query, buffer yang dimiliki SIG akan sangat membantu pada proses ini.
Dalam hal ini terbukti pada kasus Program Rehabilitasi dan Rekontruksi di Aceh
pasca gempa bumi dan gelombang tsunami.
2. Peningkatan mutu pendidikan
Dengan program aplikasi SIG ini maka dapat memberikan kemudahan pada
siswa dalam belajar geografi. Apalagi SIG sekarang adalah sebuah layanan public
yang opensource atau gratis yang bisa diperoleh setiap saat melalui internet,
sehingga dengan demikian SIG dapat diakses oleh seluruh siswa dimana saja
berada. Dimana Geografi adalah ilmu yang mempelajari permukaan bumi dengan
menggunakan pendekatan keruangan, ekologi, dan kompleks wilayah. Adapun
fenomena yang diamati adalah dinamika dari adanya perkembangan dan pembangunan
wilayah yang ada dalam kehiduapam masyarakat, misalnya informasi mengenai letak
dan persebaran dari kejadian-kejadian alamiah maupun fenomena terdapatnya
sumberdaya. Ketersediaan data yang bersifat geografis adalah merupakan arti
dari sebuah keruangan, yang mana hal ini akan memudahkan dalam bebagai macam
kepentingan. Pengetahuan mengenai informasi geografi penting dimiliki oleh
masyarakat luas sebagai bagian pemahaman mengenai sumberdaya maupun kerentanan
bencana yang mungkin terjadi di sekitarnya. Arti penting ini diwujudkan dengan
adanya pengajaran Ilmu Geografi dari mulai tingkat Sekolah Menengah hingga
perguruan tinggi. Pengajaran Geografi pada Sekolah Menengah Atas berkaitan
materi khusus Sistem Informasi Geografi diberikan secara terstruktur pula dalam
kurikulum. Kurikulum berbasis kompetensi pada mata ajar Geografi tingkat SMA/
MA semestinya diimbangi dengan tersedianya perangkat dan pengetahuan/
ketrampilan guru yang memadai. Keterbatasan perangkat pada pengajaran Geografi
tidak saja untuk materi Sistem Informasi Geografi namun hampir pada semua
perangkat pendukung materi Geografi. Hal ini disebabkan tidak tersedianya
Laboratorium Geografi di SMA.
Permasalahan tentang kesulitan siswa
memahami tentang SIG (teknologi pemetaan digital) adalah salah satu
permasalahan yang terus dihadapi oleh sistem pembelajaran geografi di lingkungan
SMA; teknologi SIG hanya dipahami secara sederhana oleh para siswa guru dalam
batas-batas pengetahuan teoritis saja, disebabkan oleh keterbatasan SDM serta
keterbatasan penyediaan sarana perangkat SIG baik keras maupun lunak yang
memerlukan biaya cukup besar. Pembelajaran Geografi pada tingkat SMA/MA
diarahkan pada 3 (tiga) sasaran, yaitu :
(1) Menganalisis gejala alam fisik dan perkembangan
bentuk muka bumi serta pelestariannya,
(2) Mengevaluasi gejala sosial di muka bumi beserta
interaksinya dan pengaruhnya terhadap kehidupan, dan
(3) Menggunakan konsep wilayah dan grafikasi dalam
memahami lokasi, pola, penyebaran dan hubungan antar obyek, termasuk spesifik
untuk industri.
Hasil pembelajaran Geografi ini,
pada tataran kepentingan nasional, akan turut membentuk manusia Indonesia yang
membawa masa depan bangsa dan negara pada keadilan dan kesejahteraan dimana
potensi sumberdaya dapatdimanfaatkan secara optimal, kerentanan bencana dari
bahaya lingkungan dapat dikurangi, dan pemanfaatan ruang lokal maupun nasional
menjadi terpadu.
3. Perencanaan pendidikan yang diselaraskan atau
sejalan dengan potensi dan pengembangan wilayah
Dengan menngunakan aplikasi program SIG, maka dapat ditentukan potensi
lokal apa saja yang dapat dikembangkan oleh suatu wilayah. Dan untuk
menyediakan SDM yang bertugas mengembangkan wilayah, pembangunan pendidikan
harus disesuaikan dengan potensi wilayah agar output yang dihasilkan dapat
dimanfaatkan untuk mengolah potensi tersebut, terutama di bidang pendidikan
dapat menentukan kurikulum dan muatan lokal apa yang akan dimasukan dalam
pengajaran di sekolah dan penentuan lokasi serta jenis sekolah kejuruan apa
yang cocok bagi daerah tersebut. Misalkan penentuan lokasi dan jenis sekolah
menengah kejuruan perikanan dan kelautan bagi wilayah masyarakat pesisir laut
dan sekolah pertanian dan perkebunan menengah atas (SPP-MA) bagi masyarakat
yang tinggal di daerah perkebunan atau dilereng pegunungan.
4. Kegiatan Evaluasi dan Monitoring Pendidikan.
Dengan SIG, evaluasi dan monitoring pendidikan sangat mudah dilakukan.
(seperti : Pembagian daerah binaan/ rayonisasi untuk memudahkan pengawasan atau
pemerataan layanan pendidikan sehingga tidak ada kesenjangan antara daerah yang
satu dengan daerah yang lain).
5. Pendukung pelaksanaan kegiatan Otonomi pendidikan
di masing-masing daerah sesuai dengan karateristik dan potensi lokal.
Dengan diberlakukannya tentang undang-undang otonomi daerah, maka
penerapan program SIG ini dapat memberikan wadah dan jalan bagi pemerintah
daerah untuk berkreasi sesuai dengan kebutuhan daerahnya bagi sifat dan
karateristik pendidikan di setiap daerahnya.
6. Pendukung pelaksanaan UU. No 20 Tahun 2003
(Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional).
Berkaitan dengan luasnya wilayah bangsa Indonesia, maka dengan
menggunakn program alikasi SIG ini akan dapat mendukung pelaksanan sistem
pendidikan nasional, yakni dengan maksud bahwa pendidikan dapat dilaksanakan
tidak hannya dengan pendidikan formal, tetapi dapat juga dilaksanakan di luar
sekolah atau tempat lain yang dianggap menungkinkan dijangkau oleh seluruh
lapisan masayarakat pada suatu daerah, sesuai dengn karateristik daerah
tersebut.
7. Wadah Penanaman Wawasan Kebangsaan Sejak Usia Dini.
Dengan diperkenalkannya SIG di dunia pendidikan baik itu dapat wujud
awal yakni pelajaran geografi, maka dapat dijadikan sebagai wadah dalam
penanaman wawasan kebangsaan bagi setiap warga negara sejak dini mungkin yakni
melalui semua jenjang dan jalur pendidikan yang ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar