KESINAMBUNGAN BUDAYA
Upacara Adat
1. Babarit
Kranggan adalah sebuah perkampungan yang terletak persis di perbatasan antara Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor. Meski berada di tengah derasnya laju pembangunan yang berlangsung di Kota Bekasi maupun di Cibubur, Kabupaten Bogor, masyarakat Kampung Kranggan, yang kini termasuk wilayah Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, masih lekat dengan kehidupan budaya dan tradisi masa silam.
Salah satu tradisi yang dilangsungkan secara periodik oleh warga Kampung Kranggan adalah babarit, sebuah prosesi upacara syukuran dan penghormatan kepada leluhur, langit dan bumi, serta sang pencipta. Prosesi ini sarat nuansa budaya Sunda, baik dari bentuk sesajian, atau sesajen, tata upacara, dan doa yang dilantunkan pemimpin upacara ini.
Upacara babarit atau disebut pula salametan bumi ini digelar setiap tahun menyambut datangnya Tahun Baru Saka, Mapag Taun Baru Saka, dan berlangsung selama sebulan penuh. Puncak acaranya adalah mengarak kerbau putih keliling kampung.
Upacara ini dipimpin sesepuh desa yang dikenal sebagai Bapak Kolot. Pemuka desa ini biasanya duduk menyendiri di ujung barisan. Sebuah tempat pembakaran kemenyan, atau disebut parupuyan, dan sesajian diletakkan di hadapannya. Sebelum acara doa bersama dimulai, Bapak Kolot membakar kemenyan di pedupaan dan membacakan doa-doa dalam bahasa Sunda.
Upacara dilanjutkan dengan penyampaian maksud dan tujuan acara serta siapa-siapa tokoh warga yang dihadirkan. Disusul dengan penyampaian secara ringkas tentang sejarah dan tradisi di Kranggan serta ucapan terima kasih dan permohonan kepada Tuhan agar warga Kampung Kranggan dan seluruh masyarakat di Indonesia diberikan keselamatan dan berkah.
Sekilas disebutkan, leluhur warga Kampung Kranggan ini adalah keturunan Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran dari tanah Sunda (Nusa Kalapa), yang mengungsi ke wilayah tengah, yang kini meliputi wilayah Bogor, Bekasi, Cirebon, dan Banten. Kampung Kranggan ini diperkirakan mulai dibangun sekitar abad ke-15 atau abad ke-16 Masehi, dan pemuka desa, Bapak Kolot Kampung Kranggan, saat ini merupakan keturunan yang ke-9 dari pendiri desa.
2. Siraman Pusaka Kraton Ngayogyakarta
Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pelaksanaan upacara siraman pusaka dibatasi selama dua hari. Tetapi pada zaman sebelumnya pelaksanaan upacara siraman pusaka dilaksanakan lebih dari dua hari.
Dalam pelaksanaan upacara siraman tadi, tidak terdapat tahap-tahapnya, dengan pengertian tidak dikenal adanya istilah-istilah khusus untuk menyebut tahap-tahap dalam upacara siraman pusaka tersebut, tetapi apabila kita amati secara seksama yang dimulai dari awal sampai akhir upacara siraman pusaka, dalam penyelenggaraannya boleh dikatakan berlangsung beberapa tahap. Mengingat waktu dan upacara siraman pusaka, maka bagian-bagian di dalam rangkaian upacara siraman itu dapat diperinci sebagai berikut:
- Tahap Sugengan
- Tahap Siraman Pusaka
Maksud Dan Tujuan Penyelenggaraan Upacara :
a. Pusaka atau tosan aji tersebut supaya tidak lekas rapuh dari diharapkan supaya tahan lama.
b. Maksud lain yaitu untuk mengetahui secara awal atau dini apabila terjadi proses kerapuhan atau kerusakan pada pusaka tersebut. dengan dapat diketahui lebih awal akan mempermudah diatasi sebelum parah.
c. Acara siraman pusaka yang berlangsung selama ini, menurut sebagian besar masyarakat mempunyai maksud untuk memuliakan benda tadi karena dianggap keramat dan bertuah.
3. Siraman Kereta Pusaka Kanjeng Nyai Jimat
Upacara ini dilaksanakan di luar Kraton Yogyakarta yakni di Ratawijayan. Kata Siraman berarti memandikan, yang maksudnya memandikan kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat. Kraton Yogyakarta menganggap kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat ini keramat dan dapat memberi tuah serta keselamatan bagi sultan dan rakyatnya. Sebetulnya pihak Kraton Yogyakarta tidak memberi istilah "Upacara Siraman Kereta Pusaka Kanjeng Nyai Jimat. Di kalangan masyarakat Yogyakarta menyebut upacara siraman kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat tersebut dengan nama Siraman Rata Kencana Titihan Dalem Kanjeng Nyai Jimat, yang artinya memandikan kereta kencana kendaraan Sri Sultan, Kanjeng Nyai Jimat. Disebut kereta kencana karena berwama kuning keemas-emasan. Demikian juga diberi nama Kanjeng Nyai Jimat karena kereta tersebut ada patungnya dari kayu yang menggambarkan seorang wanita. Adapun letak patung itu di depan bawah, menopang tempat injakan dari sais (kusir). Upacara siraman kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat ini selalu diikuti oleh satu kereta yang lain sebagai pengikut (pendherek).
Maksud dan Tujuan Penyelenggaraan Upacara :
Adapun maksud dan tujuan upacara siraman kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat yaitu agar kereta pusaka tersebut tidak cepat rapuh dan tahan lama. Jika tidak pemah dibersihkan maka karat yang menempel pada besi kereta pusaka akan mempercepat proses kerusakan. Adapun maksud dan tujuan upacara siraman kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat, yaitu sebagai ungkapan sikap memuliakan benda- benda pusaka para leluhur kerajaan yang dianggap mengandung nilai-nilai spiritual karena keramat.
Jadi jelas bahwa upacara siraman kereta pusaka Kanjeng Nyai Jimat yang dilakukan setahun sekali setiap bulan Sura itu mempunyai arti memuliakan kereta tersebut. Kereta pusaka itu dianggap kereta keramat yang mempunyai kekuatan gaib. Oleh karena itu wajib selalu dimuliakan dengan cara melakukan upacara siraman setahun sekali dengan segala macam sesaji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar