KEHIDUPAN
1. Definisi Makna Hidup
Teori tentang makna hidup dikembangkan oleh Victor Frankl, dimana
teori ini dituangkan ke dalam suatu terapi yang dikenal dengan nama
logoterapi. Logoterapi memiliki tiga konsep dasar yakni:
a. Kebebasan berkehendak ( the freedom to will)
Manusia dalam batas-batas tertentu memiliki kemampuan dan
kebebasan untuk mengubah kondisi hidupnya guna meraih kehidupan
yang lebih berkualitas. Dan yang sangat penting kebebasan ini harus
disertai rasa tanggung jawab (responsibility) agar tidak berkembang
menjadi kesewenang-wenangan.
b. Hasrat untuk hidup bermakna ( the will to meaning)
Setiap orang mengiinginkan dirinya menjadi orang yang
bermartabat dan berguna bagi dirinya, keluarga, lingkungan kerja,
masyarakat sekitar dan berharga di mata Tuhan. Keinginan untuk
hidup bermakna memang benar-benar merupakan motivasi utama pada
manusia. Hasrat inilah yang mendorong setiap orang untuk melakukan
berbagai kegiatan seperti kegiatan bekerja dan berkarya agar hidupnya
dirasakan berarti dan berharga.
c. Makna hidup ( the meaning of life)
Makna hidup adalah hal-hal yang dianggap penting, dan berharga
serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak
dijadikan tujuan dalam kehidupan (the purpose in life). Makna hidup
apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan
kehidupan ini dirasakan demikian berarti dan berharga. Dan makna
hidup ternyata ada dalam kehidupan itu sendiri, dan dapat ditemukan
dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tak menyenangkan,
keadaan bahagia dan penderitaan.
Pengertian mengenai makna hidup menunjukkan bahwa dalam makna
hidup terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan
dipenuhi. Mengingat antara makna hidup dan tujuan hidup tidak dapat
dipisahkan.
2. Karakteristik Makna Hidup
Frankl (1970) menyatakan bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang
hampa. Makna hidup bermula dari sebuah visi kehidupan, harapan dan
merupakan alasan kenapa individu harus tetap hidup. Makna hidup
sebagaimana dikonsepkan oleh Frankl ( dalam Bastaman, 1996) memiliki
karakteristik, yaitu :
a. Makna hidup itu sifatnya unik, personal dan temporer
Apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu berarti bagi
orang lain. Bahkan mungkin, apa yang dianggap penting dan bermakna pada saat ini oleh seseorang belum tentu sama bermaknanya bagi
orang itu pada saat lain. Dalam hal ini makna hidup seseorang dan apa
yang bermakna baginya biasanya bersifat khusus, berbeda dengan
orang lain, dan mungkin dari waktu ke waktu berubah pula.
b. Makna hidup itu spesifik dan konkrit
Makna hidup dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata
sehari-hari dan tidak harus selalu dikaitkan dengan tujuan-tujuan
idealistis, prestasi-prestasi akademis yang tinggi, atau hasil-hasil
renungan filosofis yang kreatif.
c. Makna hidup itu memberi pedoman dan arah terhadap kegiatankegiatan
yang dilakukan sehingga makna hidup seakan-akan
menantang (challenging) dan mengundang (inviting) seseorang untuk
memenuhinya. Begitu makna hidup ditemukan dan tujuan hidup
ditentukan, maka seseorang seakan-akan terpanggil untuk
melaksanakan dan memenuhinya. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukannya pun menjadi lebih terarah.
Di samping makna hidup yang sifatnya unik, personal, temporer dan
spesifik itu, logoterapi juga mengakui makna hidup yang mutlak (absolut),
semesta (universal) dan paripurna (ultimate) sifatnya (Frankl, 1970, dalam
Bastaman 1996).
Individu yang gagal melakukan penghayatan secara bermakna memiliki
karakteristik adanya frustasi eksistensial dan kehampaan eksistensial. Kedua
karakteristik ini menggejala berupa penghayatan yang tidak bermakna, hampa, gersang, merasa tidak memiliki tujuan, merasa hidup tidak berarti, serta bosan
dan apatis (Bastaman, 1996)
3. Sumber Makna Hidup
Sumber-sumber makna hidup adalah sebagai berikut (Bastaman, 2007):
a. Nilai-nilai kreatif (Creative Values)
Kegiatan berkarya, bekerja, mencipta serta melaksanakan tugas dan
kewajiban sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab. Melalui
karya dan kerja kita dapat menemukan arti hidup dan menghayati
kehidupan secara bermakna.
b. Nilai-nilai penghayatan (Eksperiential Values)
Keyakinan dan penghayatan akan nilai-nilai kebenaran, kebajikan,
keindahan, keimanan, dan keagamaan serta cinta kasih. Menghayati
dan meyakini suatu nilai dapat menjadikan seseorang berarti hidupnya.
Cinta kasih dapat menjadikan pula seseorang menghayati perasaan
berarti dalam hidupnya. Dengan mencintai dan merasa dicintai,
seseorang akan merasakan hidupnya penuh dengan pengalaman hidup
yang membahagiakan.
c. Nilai-nilai bersikap (Attitudinal Values)
Menerima dengan penuh ketabahan, kesabaran, dan keberanian
segala bentuk penderitaan yang tidak mungkin dielakkan lagi, seperti
sakit yang tidak dapat disembuhkan, kematian, dan menjelang
kematian, setelah segala upaya dan ikhtiar dilakukan secara maksimal. Sikap menerima dengan penuh ikhlas dan tabah hal-hal tragis yang tak
mungkin dielakkan lagi dapat mengubah pandangan kita dari yang
semula diwarnai penderitaan semata-mata menjadi pandangan yang
mampu melihat makna dan hikmah dari penderitaan itu.
4. Komponen-komponen Makna Hidup
Komponen-komponen yang menentukan berhasilnya perubahan dari
penghayatan hidup yang tidak bermakna menjadi bermakna adalah
(Bastaman, 1996) :
a. Pemahaman diri (self insight), yakni meningkatnya kesadaran atas
buruknya kondisi diri pada saat ini dan keinginan kuat untuk
melakukan perubahan ke arah kondisi yang lebih baik.
b. Makna hidup (the meaning of life), yakni nilai-nilai penting dan sangat
berarti bagi kehidupan pribadi seseorang yang berfungsi sebagai tujuan
hidup yang harus dipenuhi dan pengarah kegiatan-kegiatannya.
c. Pengubahan sikap (changing attitude) dari yang semula tidak tepat
menjadi lebih tepat dalam menghadapi masalah, kondisi hidup dan
musibah yang tak terelakkan.
d. Keikatan diri (self commitment) terhadap makna hidup yang ditemukan
dan tujuan hidup yang ditetapkan.
e. Kegiatan terarah (directed activities), yakni upaya-upaya yang
dilakukan secara sadar dan sengaja berupa pengembangan potensipotensi
pribadi (bakat, kemampuan, keterampilan) yang positif serta pemanfaatan relasi antar pribadi untuk menunjang tercapainya makna
dan tujuan hidup.
f. Dukungan sosial (social support), yakni hadirnya seseorang atau
sejumlah orang yang akrab, dapat dipercaya dan selalu bersedia
memberi bantuan pada saat-saat diperlukan.
Keenam unsur tersebut merupakan proses integral dan dalam konteks
mengubah penghayatan hidup tak bermakna menjadi bermakna antara satu
dengan yang lain tak dapat dipisahkan.
Berdasarkan sumbernya, komponen-komponen tersebut masih dapat
dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
a. Kelompok komponen personal (pemahaman diri, pengubahan sikap)
b. Kelompok komponen sosial (dukungan sosial)
c.Kelompok komponen nilai (makna hidup, keikatan diri, kegiatan terarah)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar