MUSIKALISASI PUISI
Musikalisasi puisi bukan barang baru di dunia seni. Kelompok musik Bimbo misalnya, mereka sangat ekspresif menyanyikan puisi-puisi Taufiq Ismail atau WingKardjo. Sebut saja puisi Dengan Puisi Aku ciptaan Taufiq Ismail telah berhasil
disenandungkan dengan baik tanpa mengubah makna puisi tersebut. Atau puisi
Salju karya Wing Kardjo yang begitu manis dengan iringan dentingan gitar dan
sedikit orkestrasi gaya khas Bimbo. Beberapa tahun kemudian muncul Ebiet G Ade
yang mengusung puisi-puisi ciptaannya ke dalam bentuk-bentuk melodi baladis.
Masih banyak lagi tokoh-tokoh musik yang memusikkan puisinya seperti : Yan
Hartlan dan Rita Rubi Hartlan, juga Uli Sigar Rusady.
Tentu saja tidak semua puisi dapat dimusikalisasikan. Puisi-puisi yang bertipografi
tertentu tidak bisa dibangun melodi. Dalam hal ini Rene Wellek dalam Teori
Kesusastraan menyebutkan, melodisasi puisi (penggunaan notasi) sulit diterapkan
pada puisi yang mirip percakapan, pidato. Puisi Cintaku Jauh Di Pulau dalam
kumpulan puisi Deru Campur Debu tersebut di atas memungkinkan untuk dibangun
melodi karena terdiri dari bait-bait dengan jumlah baris yang berpola. Pola
pembaitan tersebut memudahkan komposer (penyusun musik) untuk membagi-bagi
ke dalam pola birama tertentu.
Musikalisasi puisi acap kali diartikan sebagai teknik pembacaan puisi dengan
iringan orkestrasi musik baik yang sederhana maupun orkes ansambel atau
simponi. Musikalisasi puisi pada praktiknya baru sampai pada tahap mengiringi
pembacaan puisi dengan beberapa alat musik seperti gitar, piano, dan alat ritmik
yang lain. Memang ada sebagian dari mereka sudah menyanyikannya namun belum
disusun dalam bentuk teks lagu. Sedangkan musikalisasi yang sebenarya
(melodisasi puisi) dalam konteks ini sudah merupakan kegiatan menyanyikan puisi
total dengan memberi melodi, pola ritme, pemilihan jenis tangga nada, hingga
pemberian rambu-rambu dinamik dan ekspresi pada puisi tertentu. Pada
praktiknya, kegiatan menyanyikan puisi ini lebih menarik diterapkan pada
sekolah-sekolah, mulai sekolah dasar hingga sekolah lanjutan. Kegiatan
musikalisasi puisi jenis ini ternyata diminati mereka yang ingin menggunakan cara
lain dari sekadar membaca puisi. Anak-anak usia SD hingga SMU, dari tahap
pengkhayal hingga tahap realistik sudah dapat diajak menyanyikan puisi, tentu
saja dengan tidak menghilangkan otoritas puisi sebagai suatu karya seni. Otoritas puisi sebagai salah satu karya seni harus tetap dijaga, sehingga makna yang
terkandung di dalamnya tetap utuh, tidak bergeser.
Mengapa Puisi Dinyanyikan?
Jika kita mencermati lagu-lagu anak-anak muda masa kini, dengan tidak
mengabaikan proses kreatifitas mereka, kita dihadapkan pada ungkapan-ungkapan
yang serba sederhana, polos dan vulgar. Menangkap syair dalam lagu mereka
hampir tidak memerlukan energi untuk menafsirkan makna. Yang penting bagi
mereka adalah pesannya capat sampai pada sasaran. Musik rap adalah satu
contoh bagaimana kata-kata disusun secara sederhana, tidak perlu melalui proses
kontemplasi terhadap nilai-nilai estetis. Perenungan terhadap nilai estetis itulah
yang kita harapkan bisa menambah wawasan berkesenian, sekaligus sebagai
sarana apresiasi terhadap suatu karya seni. Dari sinilah siswa dapat menghargai
karya seni dan mempunyai kepekaan terhadap sesuatu yang indah.
Jika hal ini dapat diterapkan, tidak sia-sia FX. Soetopo dan RAJ. Soedjasmin
membuat komposisi untuk dua puisi Chairil Anwar tersebut. Masalah yang dihadapi
kemudian adalah, bagaimana tanggapan sastrawan khususnya penyair, terhadap
gagasan melodisasi puisi ini. Pro dan kontra selalu terjadi terhadap sesuatu yang
belum pernah dicobakan. Lazim atau tidak, setuju atau menolak, yang jelas tidak
semua penyair mencak-mencak ketika puisinya menjadi populer ketika
dinyanyikan. Ketika seorang Ebiet G Ade menyanyikan puisi-puisinya dan laris di
pasaran kaset, L. Tengsoe Tjahjono berpendapat lain terhadap proses kreatif ini.
Toh Ebiet, Bimbo, dan Taufiq Ismail tetap berjalan beriringan. Segi intrinsik dan
otoritas puisi sebagai karya sastra tidak akan terganggu sebagaimana yang
diutarakan pengamat sastra tadi. Jika ada cara lain yang lebih menarik dan diminati
siswa dalam mengapresiasi puisi, mengapa tidak dicobakan dalam pembelajaran
apresiasi sastra khususnya puisi. Uraian ini sekadar mencari alternatif lain cara
mengapresiasi puisi disamping cara yang sudah biasa dilakukan seperti pembacaan
puisi dan berdeklamasi.
Manfaat Yang Diperoleh
Musikalisasi puisi yang dimaksud bukan sekadar membacakan puisi
dengan diiringi permainan musik seperti kebanyakan orang melakukannya, tetapi sudah melibatkan penggunaan unsur-unsur musik antara lain : melodi, irama/ritme,
harmoni, yang diwujudkan dalam bentuk lembaran musik (partitur).
Untuk lebih memudahkan penyampaian kepada siswa dan guru yang tidak terbiasa
membaca notasi balok maupun angka, guru bisa memanfaatkan kaset rekaman
yang mudah di dapat. Guru bersama-sama siswa tentu akan lebih mudah
melakukan apresiasi puisi dari media tersebut dibandingkan sekadar
membacakannya. Untuk melengkapi bahan apresiasi, guru bisa mengumpulkan
media serupa yang diambil dari kaset lagu-lagu Bimbo, Ebiet G Ade, Rita Rubbi
Hartlan, dan lain-lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar